pengharapan dalam tuhan
Pdt. DR. Bangun Sitohang,MTH
Entah olok-olok ataupun sikap pesimis, bagi banyak remaja dan generasi muda, masa depan identik dengan istilah “madesu” atau masa depan suram. Bukan “madece”, atau masa depan cerah. Mereka sering mengeluhkan bahwa sekarang susah-susah sekolah tetapi nanti mereka juga susah sekali untuk bisa melanjutkan sekolah. Untuk masuk ke perguruan tinggi negeri, saingan yang mendaftar jutaan orang, sementara yang diterima paling-paling hanya ribuan. Untuk masuk universitas swasta yang bagus, biayanya terlalu mahal, tidak bisa bayar.
Photo Illustrasi Penyesalan selalu datang terlambat
Kalaupun nanti masuk, bisa jadi biaya yang membengkak membuat status mahasiswa bisa bubar di tengah jalan. Madesu. Kalaupun bisa lulus perguruan tinggi, memeroleh ijazah dan gelar, ternyata mencari pekerjaan tetap jauh lebih susah daripada mencari sekolah. Banyak iklan kerja di mana-mana mencari orang yang sudah berpengalaman. Padahal, bagaimana bisa berpengalaman kalau tidak pernah diberi kesempatan. Kita tahu banyak orang harus menyogok koneksi ke sana kemari dan seringkali gajinya pun tidak seberapa – apalagi kalau hanya memiliki ijazah SMA. Saya mendengar, gaji seorang kasir yang mengenakan pakaian keren di mall ternyata lebih rendah daripada pembantu rumah tangga. Madesu.
Jadi, tidak heran ada banyak atau beberapa orang generasi muda mencari pelarian ke berbagai hal yang negatif. Di mata mereka, percuma mengusahakan segala sesuatu sebaikbaiknya kalau toh kemudian apa yang dihadapinya hanya masa depan suram. Menurut mereka, lebih baik menikmati hidup atau setidaknya mencoba melupakan kesulitan-kesulitan hidup – bayangan suram tentang masa depan. Mereka pun terjerumus dalam penyalahgunaan obat-obatan terlarang maupun pecandu minuman keras, gadget dan kenakalan remaja lainnya.
Lalu, bagaimana anak-anak Tuhan seperti generasi muda Sitohang bersikap terhadap semua ini? Hal pertama yang hendak saya katakana adalah, sekalipun kita itu anak-anak Tuhan, tidak ada jaminan bahwa masa depan kita menjadi lebih mudah. Namun yang terpenting, apabila kita mau membuktikan bahwa kita memang benar anak-anak Tuhan, kita tidak boleh menyerah.
Kita tidak boleh cepat berputus asa, tetapi harus tetap berusaha dan berpengharapan, karena Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan atas masa depan kita juga. Memang benar masa depan itu tidak pernah ada di tangan kita. Bukan kita yang menentukan sepenuhnya masa depan itu. Kita tidak pernah dengan pasti dapat mengatakan masa depan kita suram atau cerah. Tidak ada yang pasti. Namun, sebenarnya sebagian dari masa depan itu “dititipkan” Tuhan ke tangan kita sendiri. Memang, belum tentu kalau punya ijazah dengan nilai yang bagus, kita pasti akan sukses. Namun, ada satu hal yang sudah pasti yaitu kalau masa depan kita sekarang hanya diisi dengan santai-santai, mabuk-mabukan dan sebagainya, kita tidak punya masa depan. Melakukan semua ekses negatif itu sama saja dengan menghancurkan masa depan kita sendiri. Kita tidak dapat menentukan dan memastikan masa depan kita. Namun, kita bisa menentukan masa kini kita. Apa yang dapat kita lakukan sekarang, pada masa kini kita, sepenuhnya ada di tangan kita. Jika kita buang dengan percuma, hilanglah masa depan. Akan tetapi, jika kita mau berusaha sebaik-baiknya, sekalipun kita paham betul betapa sulitnya hal itu dan memang belum tentu sukses, selalu ada kemungkinan bagi kita untuk sukses di sana.
Lalu, mana yang kita pilih? Firman Tuhan dengan jelas mengatakan “pakailah, manfaatkanlah masa kini dengan sebaik-baiknya”. Cara kita memaanfaatkan masa kini kita adalah mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya. Ada dua bekal utama yang baik: yaitu menimba ilmu pengetahuan setinggi-tingginya serta membina karakter sebaik-baiknya. Binalah karakter yang jujur, setia, ulet, serta takut akan Tuhan. Inilah yang disebut hikmat. Orang-orang yang berhikmat bukan saja adalah orang yang berpengetahuan, tetapi juga orang yang berkarakter. Mengapa? Karena, kalau orang hanya punya karakter tetapi bodoh dan tidak mempunyai pengetahuan apa-apa, ia tidak dapat menolong orang. Namun, yang lebih celaka adalah kalau kita mempunyai pengetahuan hebat, tetapi karakter bobrok. Karena itu, kerjarlah hikmat, demikian kata Amsal. Artinya, kejarlah baik pengetahuan maupun karakter. Hikmat itu menurut Amsal adalah modal paling utama untuk masa depan – lebih berharga daripada permata. Aapa pun yang diinginkan orang tidak dapat meyamai hikmat. Pengetahuan dan karakter bersumber dari takut akan Tuhan. Itulah yang harus kita bina pada masa sekarang ini. Bukan hanya percaya di mulut atau di hati, melainkan juga kita nyatakan dalam segala hal dan dalam seluruh kehidupan diri kita. Itulah arti takut akan Tuhan, yang akan melahirkan hidup bertanggung jawab – hidup yang tidak sembarangan. Orang yang takut kepada
Tuhan adalah orang yang setiap saat akan menggunakan waktu pemberian Tuhan untuk menambah pengetahuan dan membina karakter sehingga ia menjadi lebih berhikmat dan lebih bijaksana.
Madesu – masa depaan suram? Kemungkinan itu selalu ada. Namun, kalau kita memiliki hikmat, pengetahuan, dan karakter yang memadai, serta takut akan Tuhan, kita akan siap untuk menghadapinya – betapa pun suramnya masa depan itu. Ini memang tidak akan mudah, tetapi kita pasti akan dapat mengatasinya bersama-sama dengan Tuhan. Itu semua tergantung pada bagaimana kita memanfaatkan masa kini kita.
Pdt. DR. Bangun Sitohang,MTH adalah Pendeta HKBP dan Sebagai Praktisi Dosen di Medan


COMMENTS